ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Belajar Online Hemat 450 Triliun

Mengamati aktivitas belajar online ketiga anak saya, dimasa covid-19 ini muncul ide yang bisa diimplementasikan oleh Bangsa ini. Salah satunya manfaat belajar online ternyata banyak keunggulannya, tinggal pembenahan teknis dan saya yakin bisa. Mereka belajar sesuai jadwal, yang kelas 9 duduk mengikuti pelajaran TVRI, dua yang mahasiswa belajar dengan menggunakan laptopnya dan HP. Ketiganya berinteraksi dengan guru dan teman sekelas mereka, begitu juga saat mereka mengikuti ujian.

Hemat saya tidak ada kendala berarti dalam hal tersebut, hanya saja metode belajar online dapat menimbulkan rasa bosan. Pelajar yang biasanya dapat berinteraksi langsung atau bermain dengan temannya intensitasnya jadi berkurang. Keunggulan dari belajar online sangat banyak dimana solusi kemacetan dijalan, kenakalan anak, narkoba dan kekerasan yang sangat sulit ditemukan selama ini, kini bisa terwujud.

Belum lagi porsi anggaran pendidikan 20 % dari APBN, jumlahnya untuk tahun 2018 Rp.447 T, tahun 2019 Rp.492,5 T dan tahun 2020 Rp.505,8 T. Bayangkan dengan covid-19, dipaksa melahirkan inovasi baru dunia pendidikan yang ternyata efektif dan bermanfaat untuk dilanjutkan. Belajar online, saya estimasi mampu untuk memangkas anggaran pendidikan minimal sekitar Rp 450 T atau bisa lebih.

Penghematan dana tersebut dapat dialihkan ke bidang yang lebih produktif misalnya mendirikan perusahaan baru, mencetak tenaga ahli, peralatan, dan pendukung kelancaran operasi perusahaan baru. Prioritas perusahaan baru tersebut ditujukan ke sumber daya alam yang tersedia di Indonesia dan juga pabrikasi bahan baku yang bersumber dari bumi Indonesia menjadi barang jadi. Poin ini sudah saya bahas di beberapa opini sebelumnya, dengan judul pekik 45, go to hell covid-19, Lawan Takdir“.

Ringkasnya, untuk belajar online, sudah ada sarananya yaitu TVRI, meteri belajar sudah tersedia di curriculum tinggal conversi ke modul online dan TVRI. Sistem ujian, penilaian dan teknisnya tinggal disesuaikan. sumber daya alam (SDM) yang dibutuhkan tidak lebih 5 % dari jumlah pegawai Kementrian Pendidikan dan jumlah guru yang tersedia. Kemana sisa 95 % itu, jangan takut, pasti dialihkan ke bidang yang produktif dengan status bisa jadi pemilik, pimpinan perusahaan, tenaga ahli, tenaga skill sesuai dengan kemampuan.

Pertanyaan selanjutnya, gedung sekolah, kantor, gedung lainnya mau di kemanakan? Total sekolah 217.586 tahun 2018 (sumber BPS 2017/2018).

Jika ditelaah sebenarnya tidak masalah, sebab sebagian bisa dialihkan jadi kantor perusahaan baru dan sisanya bisa jadi lahan produktif. Mudah bukan?, biaya ditekan dan pendapatan bertambah dari hasil produk perusahaan baru. Dalam periode 5 tahun, hanya dari program ini, Saya perkirakan cukup untuk menghidupi seluruh rakyat Indonesia. Aset dan program diluar pendidikan ini bisa menjadi saving Pemerintah, cukup untuk mengantar Indonesia menjadi Macan Asia dan Negara Super Power di Dunia.

Terbaru

ADVERTISEMENT

Media Network

%d blogger menyukai ini: