ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Jam Operasional Pasar Cileungsi Dibatasi, Ketua Forum Pedagang Pasar Angkat Bicara

RambaBerita Bogor, – Pedagang pasar Cileungsi meminta keadilan dari pemerintah daerah Kabupaten Bogor, harapan pedagang tersebut juga mendapat dukungan dari Ketua Forum Pasar Cileungsi, Riswendi.

Sewaktu ditemui di Kantornya, Ketua Forum Pasar Cileungsi, menyampaikan bahwa batas waktu berjualan hingga pukul 13.00 WIB yang diberikan Pemkab Bogor dianggap pedagang terlalu singkat hingga menyebabkan para pedagang mengeluh.

“Kami seluruh elemen pedagang pasar Cileungsi tentu merasa keberatan dengan aturan yang ditetapkan saat ini, dimana pada umumnya, pedagang baru membuka dagangannya pada jam 8 – 9 pagi, tetapi sudah disuruh tutup pada jam 13.00,” tegas Riswendi.

Riswendi juga menambahkan bahwa para pedagang pasar akan menempuh jalur lain apabila Pemkab Bogor tidak menanggapi.

“Apabila permintaan para pedagang ke pemerintah daerah tidak direspon, kami forum pedagang pasar cileungsi, akan mengadu ke DPRD Kabupaten Bogor. Sebagai wakil rakyat kita akan beritahukan bahwa pemerintah khususnya muspika tidak melaksanakan aturan yang tidak tepat, serta akan unjuk rasa ke Kantor Bupati Bogor,” pungkas Riswendi.

Selaku Ketua Forum Pedagang Pasar Cileungsi, Riswendi mengaku turut merasakan beban yang didirasakan oleh teman teman pedagang pasar Cileungsi.

“Saya sangat prihatin akan apa yang dirasakan para pedagang pasar. Sementara posisi mereka merupakan pedagang legal, yang membayar retribusi ke pemerintah disuruh tutup jam 13.00, sementara pedagang diluar pasar dibiarkan berdagang tanpa batas waktu, contohnya lapak lapak, pasar tandingan, PKL play over, daya baru, ananda, dibiarkan dagang tanpa ada batasan waktu, seharusnya muspika, atau pemerintah daerah kabupaten bogor tidak membatasi jam buka tutupnya pasar cileungsi, padahal pemerintah daerah mendapatkan kontribusi berupa retribusi yang dibayarkan setiap hari, sedangkan dari lapak lapak illegal yang diluar pasar sudah membuat kumuh dibiarkan, apakah Pemda Kabupaten Bogor mendapatkan kontribusi dari mereka?, keluh Riswendi,

Lebih lanjut Riswendi menambahkan bahwa pedagang Pasar Cilengsi memaklumi situasi Covid19, akan tetapi pedagang pasar berharap hukum diterapkan secara adil.

“Seharusnya ketika pemerintah daerah, dan Muspika Cileungsi, menerapkan sebuah aturan, maka itu harus berlaku secara menyeluruh tanpa pilih kasih, apalagi pedagang yang lapaknya memakan badan jalan atau trotoar, dan siapa yang menjamin kalau PKL atau pedagang di luar pasar cileungsi tidak terpapar covid 19. Padahal para pedagang saat buka maupun tutup sudah melaksanakan protokol kesehatan didalam pasar, seperti wajib memakai masker pedagang dan pengunjung, menyediakan air cuci tangan, mengatur jarak antar pengunjung, keinginan saya tidak ada pembatasan jam buka pasar, kalau bisa seperti dahulu lagi. Saya meminta kepada stekholder dalam hal ini Bupati Bogor, maupun Muspika, dalam menerapkan aturan agar adil, jangan tebang pilih, dengan secara logika yang tepat, siapa sih yang ingin terkena virus covid 19 ini, baik pedagang maupun pengunjung, kita terapkan protokol kesehatan agar perekonomian berjalan normal,” tutup Riswendi. *** jo

Terbaru

ADVERTISEMENT

Media Network

%d blogger menyukai ini: