ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Putusan Tanpa Mengucapkan Irah Irah, Wali dan Pasangan Suami Istri di Penjara

RAMBA BERITA, RIAU – Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Pekanbaru yang diketuai Zulfadly, S.H.M.H, dan dua Hakim Anggota yaitu Lifiana Tanjung, S.H., M.H., serta Jefri Mayeldo, Harahap, S.H., M.H. dalam agenda sidang pembacaan Putusan atas perkara 1023/Pid.B/2021/PN Pbr dan perkara 1024/Pid.B/2021/PN Pbr, Kamis (09/12/2021) telah menjatuhkan pidana penjara terhadap terhadap terdakwa Elisabet Oktavia, James Silaban dan Vintor Harianja.

Pembacaan Putusan disampaikan setelah  pada agenda sebelumnya Jaksa Penuntut Umum yang terdiri dari Gusnelly, S.H., M.H. dan Sartika Ratu Ayu Tarigan, S.H., telah membaca tanggapan atas Pledoi Penasihat Hukum para terdakwa.

Dalam putusannya Zulfadly memutuskan hukuman atas pasangan suami istri Elisabeth Oktavia 3 bulan penjara dan James Silaban 5 bulan penjara dipotong mas tahanan sementara dalam nomor perkara yang lain, terdakwa yaitu Vintor Harianja (walinikah) dihukum selama 5 bulan penjara, dalam putusannya, Ketua majelis hakim Zulfadli, juga memutuskan Potong masa tahanan terhadap ke-tiga Terdakwa. Ketiganya dituntut berdasarkan pelanggaran Pasal 263 ayat 1 KHUP

“Turut serta membuat surat palsu sebagaimana yang disampaikan Penuntut umum, menjatuhkan pidana kepada Vintor Harianja selama 5 bulan,” kata Hakim Zulfadly.

Vonis yang diberikan majelis Hakim lebih ringan 2 bulan atas tuntutan, JPU sebelumnya menuntut 7 bulan penjara terhadap Vintor Harianja dan James Silaban, sedangkan Elisabeth Oktavia dituntut 5 Bulan Penjara, alasan Jaksa karena Elisabeth memiliki Bayi.

Menanggapi putusan Hakim, ketiga terdakwa mempercayakannya sikapnya pada tim Penasihat Hukum mereka yang terdiri dari Syahban Siregar, S.H., M.h., dan Darwin Natalis Sinaga, S.H., akan tetapi Kuasa Hukum Para terdakwa menyatakan pikir-pikir dulu.

“Oke, pikir-pikir dulu ya selama 7 hari,” tanggap Hakim.

Usai sidang berlangsung, Darwin Natalis Sinaga kepada awak media mengatakan tetap tidak setuju atas pemidanaan yang dijatuhkan pada kliennya.

“Secara pribadi saya mewakili Tim penasihat hukum, sangat keberatan apabila kliennya diVonis bersalah, lah klienku itu korban dari oknum oknum pengurus gereja, salah apa mereka, mereka ber iman pada Tuhan dan percaya kalau pernikahan itu sah kalau diberkati oleh imam gereja, apa itu salah?”

Lebih lanjut Darwin menguraikan keganjilan dan ketidak terimaan mereka atas Putusan majelis Hakim.

pertama, sewaktu pembacaan putusan itu saya tidak mendengar majelis hakim membaca irah-irah; kedua, Ini perkara pemalsuan tanda tangan, kenapa malah pemalsuan surat; ketiga, dalam fakta persidangan hanya dua saksi yang kualified mengakan kalau dalam surat tersebut ada nama Lisbon Sirait, sementara 4 saksi yang kualified lainnya mengatakan kalau tidak ada tertulis nama Lisbon Sirait, lah kok bisa yang lebih dipercaya yang sedikit; keempat, Surat itu surat gereja GPDI-SAMUEL yang di jalan mangkubumi dalam penulisan diketik dan ditulis oleh pihak gereja GPDI-SAMUEL, kemudian stelah selesai pemberkatan pernikahan disodorkan untuk di tandatangani  kemudian suratnya dibawa kembali oleh pihak gereja, lah siapa dong pelakunya, dan siapa korbannya, kan ganjil? ” ungkap Darwin.

Terhadap putusan Hakim, Darwin mengatakan bahwa ia berharap kliennya mengajukan banding demi keadailan, sebab para kliennya sudah benar-benar terzolimi.

“menurut saya baiknya klien saya menempuh upaya hukum Banding, tetapi semua tergantung klien kita saja. Alasan mengapa saya harap mereka banding karena menurut saya mereka sudah benar terzolimi, mereka itu korban lo… belum lagi anak mereka harus dirampas oleh pelapor atas sepengetahuan JPU” tutup Darwin. *** tns

 

Terbaru

ADVERTISEMENT

Media Network

%d blogger menyukai ini: