ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Siapa Sejatinya Sisingamangara (I-XII)?

opini :

Penulis : Parluhutan Simanjuntak (TOPAD)

Dalam buku Architects of Deception yang ditulis oleh Juri Lina, ada tiga cara untuk melemahkan, menjajah, atau bahkan menghancurkan suatu bangsa. Pertama, kaburkan sejarahnya. Kedua, menghilangkan atau hancurkan bukti-bukti sejarah bangsa itu sehingga tidak bisa diteliti dan dibuktikan kebenarannya. Dan yang ketiga, putuskan hubungan mereka dengan leluhurnya dengan mengatakan bahwa leluhurnya itu bodoh dan primitif.

Mengapa demikian? Sejarah adalah lambang kebesaran atau kekayaan suatu bangsa pada masa lampau.

History has been written by the victors” (“Sejarah ditulis oleh para pemenang”). Inilah adagium yang konon pertama kali dikemukakan oleh Winston Churchill (ada pula yang menyatakan berasal dari Napoleon) yang mendominasi asersi modern dan post-modern mengenai natur dari sejarah.

Tidak bisa dipungkiri bahwa sampai saat ini, para ahli sejarah, masyarakat adat, masyarakat dulu sampai pada masyarakat sekarang, belum henti mencari jati diri sebenarnya dari Raja Sisingamangaraja I – XII.

Tidak sedikit acara seminar terkait Sisingamangaraja, penelitian sejarah, pustaha laklak (Kulit kayu bertuliskan aksara batak), mitos dan cerita-cerita masyarakat setempat, buku berjudul Tuanku Rao, materi di mbah google untuk menjadi referensi.

Namun keraguan siapa sebenarnya jati diri Sisingamangaraja I – XII, bagi penulis masih tetap menjadi sebuah misteri yang belum terjawab.

Mohon maaf bila Penulis tidak yakin betul dengan sejarah yang sudah tercatat di buku sejarah yang sudah menjadi referensi resmi, yang menyatakan bahwa Kerajaan Sisingamangaraja itu adalah berbentuk Dinasti, turun temurun dari klan bermarga Sinambela.

Raja Sisingamangaraja I-XII bukan sepenuhnya semua bermarga Sinambela, dan kemungkinan saja hanya ada satu diantaranya, namun kurang tahu yang ke berapa aja ?

Yang baru ada bukti adanya peninggalan sejarah berupa pusat kerajaan Sisingamangaraja yang ada di Bakkara, itupun beritanya gedung tersebut sudah tidak asli, karena yang asli sudah dibakar

Dalam tulisan ini, penulis coba memberi padangan berdasar kedua referensi ilmiah diatas dan situasi kondisi sosial budaya dan kehidupan masyarakat batak dimasa itu, yang menurut pemikiran penulis lebih realistis untuk mengungkap siapa sebenarnya Raja Sisingamangaraja I-XII.

Adapun nama-nama Raja Sisingamangara I-XII, (Diperkirakan memerintah tahun 1530 – 1907) adalah sebagai berikut:

Sisingamangaraja I, Ompu Raja Humuntal.
Singamangaraja II, Ompu Raja Tinaruan
Singamangaraja III, Raja Itubungna.
Singamangaraja IV, Tuan Sorimangaraja.
Singamangaraja V, Raja Pallongos.
Singamangaraja VI, Raja Pangolbuk.
Singamangaraja VII, Ompu Tuan Lumbut.
Singamangaraja VIII, Ompu Sotaronggal.
Singamangaraja IX, Ompu Sohalompoan.
Singamangaraja X, Ompu Tuan Na Bolon.
Sisingamangaraja XI, Ompu Sohahuaon (1841-1871).
Sisingamangaraja XII, Raja Patuan Bosar Ompu Pulo Batu (1876-1907)

Daerah yang paling sulit ditahlukkan Belanda ialah wilayah kerajaan batak, Raja Sisingamangara dan Raja-Raja lainnya yang ketika itu sangat banyak ada di Daerah Batak.

Adapun struktur pemerintahan tradisional di Batak masa pemerintahan Raja Sisingamangaraja adalah dimulai dari wilayah terkecil disebut Huta dan dipimpin oleh Raja Huta. Kemudian gabungan wilayah beberapa huta yang disebut Lumban dipimpin oleh raja Lumban. Selanjutnya gabungan Lumban yang disebut dengan Horja dipimpin oleh Raja Huta Lumban. Kemudian lebih meningkat lagi kumpulan wilayah Horja disebut dengan Bius yang dipimpin oleh Raja Bius. Dan kemudian pimpinan dari seluruhnya adalah Raja Batak.

Untuk menjadi Raja Batak, dilakukan proses pemilihan dari Raja-Raja Bius yang menjabat.

Pemilihan Raja Bius sudah ada SOPnya, yang pasti Raja Batak yang terpilih adalah Raja Bius yang terunggul, baik kesaktian, religi, leadership, pengetahuan adat istiadat, hukum dan lain sebagainya.

Kondisi ini tentu berdasar kuat bahwa Batak sulit ditahlukkan oleh Belanda, karena dipimpin oleh raja-raja yang sangat kuat dan berakar mulai dari level terendah sampai ke tingkat pusat, yaitu level Raja Bataknya.

Beda dengan Dinasti yang tentu berdasarkan garis keturunan dan aturan yang mutlak, tanpa melihat kapabilitas dari calon Raja.

Oleh karena itu, beralasan Belanda menyesuaikan sejarah sesuai kepentingannya sendiri, yang utama yaitu kepentingan untuk menaklukkan Wilayah Kerajaan Batak.

Untuk memuluskan rencana tersebut bukti-bukti sejarah, tulisan laklak diboyong ke negeri Belanda, tanpa ada yang tersisa.

Ada satu buku laklak yang terdiri dari 30 an jilid, dengan judul Peninggalan Dan Karya Sisingamangaraja XI (1830-1867), namun penulis menduga isinya tidak menceritakan kondisi sebenarnya, namun sudah berdasar versi rekayasa si Penjajah si Belanda.

Dengan dasar analisa sederhana ini, penulis ingin menyudahinya dengan penekanan demikian:

1. Penulis yakin benar bahwa menyebut semua Sisingamangaraja, mulai I – XII adalah turun temurun dan bermarga Sinambela adalah tidak benar.

2. Bila mau tahu jati diri sebenarnya, silakan cari tahu tahu Nama-Nama dan Marga Dari Raja-Raja Bius yang memerintah di masa-masa tahun tersebut, dari antara raja Bius/Raja Ihutan tersebutlah sejatinya Sisingamangaraja itu.

Berganti berdasarkan pemilihan mana yang terunggul dari Raja-Raja Bius/Ihutan yang ada dan sesuaikan tahunnya dengan perkiraan tahun-tahun memerintahnya.

3. Agar lebih akurat, silakan mendatangi museum Negara Belanda, mintakan buku-buku laklak yang asli tulisan Raja-Raja/Ihutan yang memerintah dimasa-masa tersebut, maka siapa sesungguhnya Raja Sisingamangaraja I – XII akan bisa ditemukan.

4. Penulis mendapatkan perkiraan beberapa marga yang sebenarnya dari kedua belas Raja Sisingamangaraja tersebut, namun kurang etis dikemukakan dengan alasan tertentu.

DomaiNesia
DomaiNesia

TERPOPULER

Terbaru

ADVERTISEMENT

Media Network

%d blogger menyukai ini: