oleh

Jangan Jatuhkan Kebesaran Bangso Batak Hanya Karena Masalah Kecil

-Opini-36 views

Awalnya berita ini saya abaikan, saya pikir peristiwa seperti ini sudah sering terjadi bahkan lebih. Namun seminggu ini postingan di gorup wa, facebook dan medsos lainnya diramaikan kabar persekusi tersebut, saya terpanggil mudah-mudahan pendapat saya dapat menyejukkan suasana.

Peristiwa yang saya baca, Front Pembela Islam (FPI) minta secara paksa agar kedai tuak milik Ibu Lamria Br. Manullang ditutup. Sebelum peristiwa ribut tersebut sudah ada permintaan melalui kepala dusun dan kecamatan agar kedai tersebut tidak menjual tuak saat Ramadhan. Ketua FPI Batang Kuis, Iskandar Ansor meminta maaf secara lisan maupun secara tertulis ke Ibu Lamria Br. Manulang atas keributan dan beritanya ada perusakan juga. Perihal permintaan penutupan kedai tuak diberitakan tetap dijalankan. Ibu Lamria Br. Manulang melaporkan peristiwa ini ke Polisi.

Menyikapi hal tersebut, menurut saya peristiwa ini sudah viral dimedsos, saling menghujat, provokatif dan memancing pertikaian yang merugikan kedua belah pihak termasuk negara ini. Saya jadi tersadar bahwa memang covid-19 ini telah membangkitkan, memutar balikkan kebiasaan, keyakinan, mempengaruhi keberanian dan banyak hal yang belum pernah kita saksikan dan saat ini terjadi. Kembali ke peristiwa persekusi ini, saya sangat menghargai solidaritas yang ditunjukkan oleh saudara-saudara kita sesama batak yang selama ini sudah terkikis karena godaan kenikmatan yang mungkin telah membius perasaan kita dan sayangnya sudah dipatenkan menjadi kebenaran yang dijunjung oleh sebagaian besar bangso batak. Bukankah persekusi yang jauh lebih dahsyat dari kasus ini juga pernah terjadi bahkan pelaku persekusi tersebut dilakukan oleh sesama batak, bahkan bisa jadi saudara sendiri namun jangankan membuat pernyataan resmi, hanya untuk mengetahui apa sebenarnya yang terjadi saja tidak ada yang sudi.

Baiklah, bila ini namanya kebangkitan kepedulian sesama batak, kita dukung. Namun kita harus sadar kita hidup ditengah masyarakat yang heterogen dari berbagai sisi, beda agama, beda suku, beda bahasa. Sebaiknya kepedulian kita adalah untuk semua bangsa ini. Betul dimulai dengan kepedulian sesama batak, namun harus dimulai dari keluarga sendiri, kepedulian semarga, kepedulian sesama batak dan lanjut kepedulian sesama bangsa. Kasus ini tidak perlu kita besar-besarkan menjadi alasan untuk melakukan tindakan yang anarkis dengan dasar solidaritas batak. Ajakan seperti ini adalah solidaritas yang sempit dan bukan seperti itu lagi mainan orang yang menamakannya batak yang cerdas, intelek dan bermartabat.

Negara ini sedang mengalami cobaan berat, atau lebih pasnya “sedang berjuang untuk lepas dari pandemik (parungkilon bolon) dan ingin selamat serta terbebas dari covid-19 dan setelah itu menata kehidupan yang belum tahu kedepannya seperti apa. Covid 19 telah membawa krisis ekonomi sangat berat, banyak bangso batak di kota metropolitan sudah tidak tahan hidup, ingin pulang ke bona pasogit, namun tidak diperbolehkan. Kemarin saya lewat dari stasiun Antar Lintas Sumatera (ALS) ada banyak mobil ALS terparkir. Sopir, kernet hanya duduk terdiam seolah menunggu kepastian hari esok, tidak tahu apa yang mau mereka kerjakan (ini gambaran minor kehidupan masa covid-19).

Hampir sebulan ini saya coba menulis, menulis apa saja yang menurut saya perlu diluruskan agar bangsa ini tidak tenggelam. Dalam beberapa tulisan saya, saya coba mengajak bangsa ini untuk melihat akar persoalan bangsa ini, bukan meributkan hal-hal kecil yang dapat mengubur akar persoalan bangsa ini. Saya mengajak untuk melihat apa sebenarnya akar permasalahan bangsa ini, sehingga setiap ada masalah sangat sulit untuk keluar dari permasalahan tersebut bukan seperti negara lainnya, dimana kalau dilihat dari jumlah penduduk dan sumber kekayaan alam, negara ini jauh lebih berada. Bila berkenan dapat membaca opini saya dalam beberapa tulisan yang linknya saya sertakan dalam tulisan ini.

Persekusi FPI Kepada Ibu Pemilik Kedai Tuak.

Akhir dari tulisan ini, saya minta agar ajakan untuk melakukan sesuatu dengan mengatas namakan bangso batak agar segera diberhentikan. Rekaman, postingan dan komentar yang memuat ajakan melakukan sesuatu tersebut mari kita hindarkan. Biarkan masyarakat, FPI dan Polsek Batang Kuis, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara (Sumut) yang menyelesaikan masalah tersebut sesuai aturan dan tatanan sosial setempat. Himbauan juga kepada Pemerintah Deli Serdang, Polisi agar dapat bertindak sesuai dengan hukum yang berlaku tanpa ada intervensi siapapun dan libatkan semua pihak yang terlibat, umumkan secara terbuka proses dan juga hasil yang sudah dicapai agar semua pihak percaya dengan kinerja Pemda dan Polis.

  1. https://rambaberita.com/opini-lawan-mafia-dor-kalau-diperbolehkan-undang-undang/
  2. https://rambaberita.com/opini-lawan-takdir/
  3. https://rambaberita.com/opini-ekonomi-terjajah-dan-pentingnya-gugat-perpu-corona/
  4. https://rambaberita.com/opini-hidup-mandiri-dan-rencana-kehadiran-omnibus-law/
  5. https://rambaberita.com/bangkit-lawan-krisis/
  6. https://rambaberita.com/korupsi-pengadaan-dan-tanggungjawab-lkkp/
  7. https://rambaberita.com/belajar-online-hemat-450-triliun/
  8. https://rambaberita.com/korupsi-pengadaan-barang-jasa-unggul-dan-mempertanyakan-peran-lkpp/
  9. https://rambaberita.com/efektivitas-anggaran-inspektorat/
  10. https://rambaberita.com/strategi-ideal-pasca-covid-19-dengan-metode-balance-scorecard/
  11. https://faktapers.id/2020/04/strategi-ideal-pasca-covid-19-dengan-metode-balance-scorecard/
  12. https://rambaberita.com/berdayakan-tvri-dan-telkom-untuk-pendidikan-jarak-jauh-bukan-pribadi/

News Feed