Pekanbaru,rambaberita.com – Permasalahan sampah di kota Pekanbaru sudah mulai mendapatkan apresiasi dari masyarakat Kota Pekanbaru Riau. Bagaimana tidak setelah kontrak pengelolaan sampah antara Pemko Pekanbaru dan PT EPP diputus. Tumpukan sampah menjamur di berbagai titik Kota Pekanbaru, bahkan menjadi keluhan utama warga. Namun siapa sangka, dari situasi yang sempat “darurat sampah”, Pekanbaru khususnya Kecamatan Pekanbaru Kota justru bangkit dan bisa mengatasi persoalan sampah.
Dikomandoi Camat Rein Rizka Karvy, S.STP, M.si, wilayah Kecamatan Pekanbaru Kota berhasil menutup 20 titik tumpukan sampah baik TPS legal maupun liar dan kini mencatat tingkat kebersihan hingga 90 persen, jauh melampaui rata-rata kota yang sebelumnya hanya 80 persen.
“Berdasarkan arahan dari Walikota Pekanbaru, kami bergerak cepat menyusun sistem baru yang berbasis kolaborasi dan kedekatan dengan warga,” tegas Rain Riska dalam wawancara eksklusif, Kamis (26/6/2025).
Kunci sukses terletak pada pembentukan dan penguatan Layanan Pengangkutan Sampah (LPS) di enam kelurahan. LPS ini menggantikan peran lama pengangkut sampah, namun dengan pendekatan yang lebih terstruktur, terjadwal, dan menjangkau hingga ke pemukiman paling dalam.
Selama satu minggu penuh, Camat dan timnya bahkan turun langsung ke lapangan, mengawasi titik-titik rawan dan membangun komunikasi aktif dengan warga.
“Kami tempatkan petugas jaga di lokasi-lokasi bekas TPS liar. Warga diberi pemahaman, dan sistem pengangkutan dijalankan disiplin. Sampah yang dulu menumpuk, sekarang sudah tidak ada,” ujarnya.
Perubahan paling terasa dirasakan oleh warga. Sampah kini dijemput langsung di depan rumah secara bergilir setiap dua hari, membuat warga merasa mendapatkan pelayanan premium.
“Dulu warga buang ke pasar atau pinggir jalan. Sekarang mereka bangga karena sampahnya diambil langsung. Ini bukan soal bersih saja, tapi soal rasa dihargai,” tambahnya.
Meski masih ada beberapa titik sisa di sekitar Jalan Agus Salim dan kawasan pasar, Rain menyebut penanganannya terus berjalan dengan pendekatan bertahap dan kolaboratif.
Keberhasilan ini menjadi bukti bahwa tanpa ketergantungan pada kontrak besar, daerah bisa mandiri jika ada kepemimpinan yang responsif, sistem yang rapi, dan partisipasi masyarakat yang kuat.
“Ini bukti dengan bersama kita bisa. Yang penting itu kemauan, kolaborasi, dan kehadiran nyata di lapangan persoalan tumpukan sampah bisa diatasi,” tegas Rain. *** ( Edo)
Tidak ada komentar